Sabtu, 17 Maret 2012

Analisis Laporan Keuangan BANK BRI Syariah

Neraca
Tanggal 31 Januari 2009 dan 2008







































Laba-Rugi
Periode 1 Januari s/d 31 Desember 2009 dan 2008


























Perhitungan Rasio Keuangan Tanggal 31 Desember 2009 dan 2008
Perhitungan rasio keuangan menurut metode camel mempunyai 5 aspek, yaitu :
      1.       Capital 
Dengan menggunakan suatu indikator yaitu CAR yang diperoleh dengan membandingkan modal sendiri dengan aktiva tertimbang menurut resiko yang dihitung dari bank yang bersangkutan.
Rumus : CAR = Modal Sendiri /Aktiva Tertimbang
Pada laporan keuangan diatas CAR mengalami perubahan yang signifikan, pada tahun 2008 sebesar 45.45% sedangkan pada tahun 2009 CAR mengalami penurunan sebesar 17.04%. Karena CAR ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar jumlah aktiva yang memiliki resiko yang dibiayai oleh modal selain dana bank, sehingga dapat dikatakan Bank BRI tidak mampu mepertahankan sejumlah aktiva yang memiliki resiko.
      2.       Assets
Indikator kualitas aset yang dipakai adalah rasio kualitas produktif bermasalah dengan aktiva produktif (NPL).
Rumus : NPL = Kualitas produktif bermasalah / aktiva produktif
Pada laporan keuangan diatas NPL mengalami perubahan, pada tahun 2008 NPL sebesar 0.26% dan pada tahun 2009 NPL mengalami kenaikan sebesar 1.07%. Karena NPL ini digunakan untuk mengetahui kualitas assets suatu bank, maka dapat disimpulkan bahwa Bank BRI bisa mempertahankan kualitas asset pada tahun 2009.
      3.       Management
Kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya dalam bekerja, juga dapat dilihat dari pendidikan serta pengalaman karyawannya dalam menangani berbagai kasus yang terjadi. Unsur-unsur penilaian dalam kualitas manajemen adalah manajemen permodalan, aktiva, umum, rentabilitas dan likuiditas, yang didasarkan pada jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
      4.       Earning
Indikator yang dipakai adalah dan BO/PO yang digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank, dan NIM yang diperoleh dengan membandingkan pendapatan bunga bersih dengan rata-rata aktiva produktif.
Rumus : BO/PO = Total beban operasional / total pendapatan operasional
NIM = Pendapatan bunga bersih / rata-rata aktiva produktif 
# BOPO
Digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen lembaga keuangan dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan lembaga keuangan yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu lembaga keuangan dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Pada tahun 2008 rasio BOPO 215.58% namun pada tahun 2009 turun menjadi 97.50%, ini membuktikan pengendalian yang  baik antara biaya operasional dengan pendapatan operasionalnya karena rasio semakin kecil atau turun.
# NIM
Rasio NIM pada data diatas tahun 2009 mengalami penurunan, sehingga menjadi 7.80% yang pada tahun 2008 sebesar 11.20%. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Semakin besar rasio ini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola bank.
      5.       Liquidity
Indikator yang digunakan adalah loan to deposit ratio (LDR) dan reserve requirement atau giro wajib minimum (GWM). LDR diperoleh dengan membandingkan antara seluruh penempatan dan seluruh dana yang berhasil dihimpun ditambah dengan modal sendiri, sedangkan GWM merupakan perbandingan giro pada Bank Indonesia dengan seluruh dana yang berhasil dihimpun.
Rumus : 
LDR = Seluruh penempatan/(seluruh dana yang berhasil di himpun+modal sendiri)
GWM = Giro pada bank indonesia/seluruh dana yang berhasil di himpun
# LDR (Quick Ratio= aktiva lancar / kewajiban lancar)
Di tahun 2008 551.05% dan pada tahun 2009 34.77%. Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan semakin besar.
# GWM
GWM atau Giro Wajib Minimum milik bank harus tetap terjaga untuk menghindari terjadinya dampak buruk dari system perbankan dan perekonomian

Sumber :

1 komentar: